7 Cara Melayani Pelanggan Usaha Cukur Rambut Agar Mereka Nyaman

Berbanding terbalik dengan bisnis barbershop di lingkungan perkotaan, usaha cukur rambut di Desa sangat dipengaruhi oleh
faktor personal dari pemilik. Hal ini tentu berbeda dengan barbershop yang selalu mengutamakan produk "tren" atau "gaya" rambut model kekinian. Bukan berarti yang benar adalah barbershop dengan andalan "tren" nya atau cukur rambut dengan andalan "personal" nya, akan tetapi keduanya memang memiliki ruang dan konteks yang berbeda.


Kalian tahu, hampir seluruh bisnis di Desa yang utama dilihat oleh masyarakat adalah "siapa" yang menjalankan. Kenapa bisa begini?? masyarakat desa itu lekat dengan yang namanya latar belakang sejarah dan rekam jejak dalam menilai seseorang.

Apabila seseorang memiliki nilai sejarah dan rekam jejak yang dianggap oleh masyarakat itu bermutu, berkualitas, supel, dan merakyat, maka masyarakat desa akan memiliki kesimpulan positif kepada orang tersebut dalam semua hal.

Misal, seseorang yang terbiasa menjadi tokoh masyarakat, ketua pemuda, orang enthengan, tidak pelit, dan jujur maka tingkat kepercayaan masyrakat terhadap orang tersebut akan naik drastis. Dalam banyak hal ia akan digunakan oleh masyarakat, pada akhirnya orang tersebut menajadi permata atau orang penting.

Masyrakat yang sudah menganggap orang tersebut memiliki kualitas, maka apa yang ia lakukan juga akan dianggap bermutu, termasuk "perilaku bisnis" nya juga dianggap bermutu. Dari sisi kebermutuan secara personal inilah yang akan menjadikan sebuah bisnis di Desa akan laku keras dan maju ke depannya.

Maka, saya akan menjalaskan sisi pelayanan personal apa sajakah yang dapat "mendongkrak" penyedia jasa cukur rambut di Desa, agar ramai pengunjung. Berikut ulasannya:

1. Ketika pelanggan datang, berikan ucapan salam dengan hangat

Kesan awal dari sebuah hubungan antara pelanggan dengan penyedia jasa dimulai dari cara menanggapi kedatangan mereka. Awali smuanya dengan senyum dan penuh rasa hormat. Masyarakat desa itu merasa dihargai ketika ada orang yang mau "menjunjung" mereka. Dalam hal ini, junjunglah mereka dengan sikap "mengalah" untuk memberikan salam.



Usahakan ketika mereka datang, posisi kalian sedang berdiri dan membungkuk, "monggo pak/bu", akan tetapi menyesuaikan dengan siapa dulu yang datang. Apabila anak-anak ya tidak perlu bersikap hingga agak membungkuk.

Sikap tersebut dilakukan ketika kalian sedang tidak mencukur rambut, yaitu ketika tidak ada pelanggan. Apabila kalian sedang mencukur rambut, cukup berhenti sebentar kemudian menoleh kearah pelanggan dan barulah kalian sapa. Alangkah baik jika ditambahkan dengan kalimat "pinarak lenggah" atau "silakan duduk pak"

2. Jangan lupakan untuk menanyakan secara singkat tentang model rambut yang akan dipilih

Lha tahapan selanjutnya sebenarnya umum, yaitu menanyakan tentang model rambut. Namun, ketauilah bahwa masyarakat desa itu tidak terlalu peka terhadap model dan tidak membutuhkan gambar atau foto rambut yang terpampang di lokasi tempat cukur rambut.



Di barbershop, foto dari jenis potongan rambut dari model akan sangat penting sebagai pilihan jenis potongan rambut. Lha di Desa, foto tersebut hanya berfungsi sebagai hiasan saja. Uniknya, para pencukur rambut bahkan tidak memiliki skill atau kemampuan untuk memahami model.

Lha, kalian cukup saja menanyakan "mau dipotong seperti apa pak/bu?" simpel saja, dan ini akan menggerakkan mereka kepada jawaban yang simpel pula. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, mereka hanya menjawab "tipiskan saja". Rumusnya, tanya simpel jawab simpel.

3. Belajarlah untuk mengajak berbicara yang sesuai dengan minat atau pengetahuan dari pelanggan

Dari sapaan awal, pelanggan akan langsung membangun kesan. Jika pelanggan yang datang adalah orang yang kalian kenal, maka kesan tersebut tidak terlalu berpengaruh banyak. Namun, jika yang datang adalah pelanggan yang belum kalian kenal, kesan awal akan sangat berpengaruh pada kesan selanjutnya.

Lha, ketika proses pemotongan rambut mulailah untuk mengerti wawasan dari pelanggan. Beruntunglah jika itu pelanggan sekitar, maka kalian yang sudah terbiasa bergaul dengan mereka, akan tahu apa yang harus diobrolkan.


Ini penting karena memang masyarakat desa sangat suka dengan komunikasi, namun kalian juga harus peka dimana ada beberapa orang yang tidak begitu suka komunikasi, maka carilah obrolan simpel.

Lha ketika ada pelanggan yang baru, mulailah berbicara tentang latar belakang yang terdiri dari, alamat, kesibukan, pekerjaan dan keadaan keluarga. Dari sini, ketika kalian adalah orang yang terbiasa memasyarakat, akan tau cara menggali / membuat obrolan menjadi panjang.

4. Hafalkan setiap pelanggan dengan melihat ciri khas jenis potongan rambut mereka

Ini akan sulit untuk dilakukan, akan tetapi penting bagi kalian jika ingin mempertahankan citra "positif" dari jasa kalian. Tentu kalian sedikit demi sedikit akan hafal siapakah pelanggan kalian, ini akan mudah dilakukan ketika kalian mampu membangun "kesan" dari sisi personal pelanggan.

Cara membangun kesan ini ya tadi, dari obrolan dengan pelanggan akan dapat memberikan simbol tertentu kepada mereka. Misal, simbol berupa alamat tempat tinggal, pekerjaan, bahkan ciri khas cara obrol. Misal ada pelanggan kalian yang hanya 1 desa, bahkan 1 dusun tentu sangat mudah untuk menghafal.

Dari sini mulailah mengerti jenis dari potong rambut yang mereka sukai, maka kalian akan cukup menanyakan "potong biasanya atau beda?"

Ketauilah pertanyaan tersebut akan menimbulkan kesan bahwa kalian memperhatikan mereka. Lha masyarakat desa akan sangat suka dengan yang namanya perhatian dan kepedulian. jika kalian tidak menghafal, maka ketika pelanggan yang udah sering memakai jasa kalian akan berganti meminta ke kalian "potong seperti biasanya ya", kalian bisa lupa seperti apa potong seperti biasanya itu.

5. Bumbui sebuah Obrolan dengan Nilai-nilai kehidupan

Obrolan yang baik itu sifatnya mengalir mengikuti dari pelanggan, namun tetap bepegang teguh dengan moralitas. Ketika pelanggan mengajak "ngrasani" atau mengomongkan kejelakan orang, maka pandai-pandailah untuk membawa sikap.



Itu akan sering terjadi di lingkungan desa, dimana sebuah obrolan yang ujung-ujungnya membuka aib atau menceritakan keburukan orang lain yang sifatnya masih "katanya". Kita tidak bisa secara frontal berlawanan atau mencegah, namun harus berusaha mengalihkan pembicaraan.

Pada titik tertentu, ceritakanlah tentang sulitnya menjalani kehidupan, agar para pelanggan juga mengerti tentang proses hidup. Penting dilakukan jika pelanggan bisa kalian arahkan pada sebuah diskusi yang hangat. Maka, wawasan luas akan kehidupan itu sangatlah berguna untuk mengajak orang lain pada sebuah diskusi hangat.

6. Tunjukkanlah perilaku menjaga kebersihan dan kerapian tempat kerja kalian

Perilaku menjaga kebersihan dalam jasa cukur perlu diperhatikan, potongan-potongan rambut yang berserakan harus selalu di sapu dan dikumpulkan di tempat yang tersembunyi dari pelanggan. Jangan sampai pelanggan datang melihat potongan tumpukan rambut pada sembarangan tempat.




Kebersihan dari penyedia jasa dapat meningkatkan kenyamanan dari para pelanggan, apalagi ketika mereka harus antri. Tunjukkan sesuatu yang apabila dipandang mata tidak menimbulkan kesan negatif dari pelanggan.


7. Mendengarkan setiap kritikan dan berilah Diskon pada pelanggan 

Sebagai penyedia jasa, memang sudah wajarnya jika terkadang ada pelanggan yang tidak puas dengan pelayanan kalian. Sebenarnya itu bukan sebuah masalah, karena yang terpenting adalah sikap dan cara kita menanggapi setiap kritikan tersebut.

Ketika ada komplain tentang cara potong kalian yang terlalu kasar, kurang rapi, ataupun kekurangan lain yang membuat mereka tidak puas, maka terimalah dan dengarkan keluhan mereka. Jangan sampai kalian mencari cara untuk menyalahkan benda, situasi bahkan orang tersebut.



Dalam kondisi tertentu, kalian yang sudah bisa menghafal pelanggan kalian, mulailah memetakan mana yang pelanggan rutin dan mana yang tidak. Dari situ, terkadang berilah diskon kepada mereka, ini tentu tidak perlu dilakukan terlalu sering karena cukup terkadang saja.