Sejarah dan Ciri Khas Kubro Siswo

Bagi kalangan masyarakat Magelang dan sekitarnya, kubro menjadi salah satu kesenian
yang cukup dikenal hingga ke pelosok kampung. Kesenian kubro sendiri menggambarkan penyebaran agama islam di pulau jawa.



Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kita itu sangat lekat dengan yang namanya kesenian-kesenian sejak jaman nenek moyang atau hindu budha. Kesenian tersebut bukan dalam rangka hiburan, akan tetapi dalam rangka sebuah ritual.

Begitu islam masuk, maka terjadi percampuran dan akulturasi secara halus, sehingga ritual dapat digeser menjadi sebuah kesenian yang bernafaskan dakwah. Sebuah kombinasi indah antara nilai seni dengan nilai agama. 

Kubro yang merupakan salah satu kesenian di wilayah magelang, menunjukkan bahwa dakwah dapat di munculkan dalam bentuk irama-irama, nada, dan bunyi yang indah. ciri khas dari kubro siswo ini adalah semangat bergerak dalam bentuk baris berbaris.

Kubro merupakan singkatan dari kesenian ubahing badan lan raga (kesenian gerak badan dan raga). Dalam bahasa arab, kubro dapat berarti besar, dan siswo berarti siswa. Maka dari 2 penggalan ini menunjukkan bahwa kubro siswa merupakan pertunjukan yang menjunjung tinggi kebesaran Allah. 

Munculnya Kubro Siswo di Magelang

Berbicara mengenai kesenian Kubro Siswo, akan sulit ditemui dan didengar oleh masyarakat di luar wilayah magelang. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa setiap daerah memiliki kesenian yang berbeda beda atau bervariasi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita memiliki daya kreatifitas dan cerita sejarah yang berbeda-beda.

Kubro Siswo berasal dari daerah sekitar candi Mendut Kabupaten Magelang sejak tahun 1965. Awalnya kesenian ini sudah ada di daerah Borobudur dan sekitarnya. Nah yang penting untuk kalian tahu, Kubro Siswo sering dikaitkan dengan Ki Garang Serang, prajurit
Pangeran Diponegoro yang mengembara di daerah Pegunungan Menoreh untuk menyebarkan Agama Islam. Zaman dahulu, ketika seseorang menyebarkan agama islam, akan menghadapi tantangan alam yang luar biasa. Kondisi alam masih terdiri dari hutan belantara.

Dalam perjalanannya Ki Garang memasuki sebuah hutan yang di huni oleh banyak binatang buas. Saat hutan di bakar untuk dijadikan jalan terjadi pertentangan antara Ki 
Garang Serang dengan sekelompok binatang buas. Dengan kesaktiannya, binatang-binatang itu dapat ditundukkan oleh Ki Garang dan mau mengikuti perintahnya.




Dari sini akan dapat diketahui penyebab dalam tarian kubro siswo ada sesi "kewan-kewanan". Sesi tersebut adalah simbol dimana hewan / binatang buas yang dulu melawan ki Garang, kemudian tunduk. Sesi ini biasanya berada pada tengah acara atau mendekati akhir pentas.



Kubro siswo ini juga mencerminkan semangat nasionalisme, karena KI Garang Serang pada zaman dahulu juga turut mengusir penjajah / kolonialisme belanda. Ingat tidak, bagaimana perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perang gerilya?? lha Ki garang serang masuk di dalam perjuangan tersebut.



Tidak heran jika irama gerak dalam Kubro Siswo bercirikan tarian prajurit yang ritmis dan padu dengan musik yang menggugah semangat. “roh” Kubro Siswo yang bersifat spiritual, rapi dan enerjik. Ini yang membedakan dengan kesenian lain. Kubro siswo menampilkan tarian yang sederhana, akan tetapi dengan gerak barisan yang sangat kompak.
Ada pula yang menyampaikan bahwa, dahulunya kesenian ini banyak didominasi oleh kaum muda yang berawal sekitar tahun 1940 ketika penjajah Belanda mau menjajah kembali bangsa Indonesia. Mereka menggunakan kostum tentara Belanda untuk menghindari kecurigaan mereka selama kesenian ini berkembang.
dengan musik pengiring mirip dengan lagu perjuangan dan qasidah, yang liriknya telah diubah sesuai misi Islam. Namun karena misi dari berdirinya kesenian ini untuk mempersatukan masyarakat pada waktu itu untuk melawan penjajahan maka dalam nyanyian-nyanyian kubro siswo disisipi lagu-lagu perjuangan. Kesenian tersebut diiringi dengan bedug, kendang, seruling, 3 bendhe, kecer, dan 2 s/d 3 vokal.

UNSUR DAN CIRI KHAS KUBRO


1. Pemain
  • Terdiri dari 15 sampai 25 orang
  • Mereka membawa golok dan tameng yang terbuat dari bambu/kayu
  • Durasi antara 5 jam sampai dengan 7 jam yang terbagi dalam beberapa babak; rodrat, setrat
  • Pemain berkostum seperti tentara keraton, akan tetapi memakai dandanan seperti pemain bole
  • Terdapat 3 orang / lebih kapten yang berdandan seperti kapten kapal laut dan membawa peluit

  • Berhenti tidaknya gerakan menyesuiakan dengan peluit dari kapten
  • Pada babak tertentu terdapat para pemain yang mengenakan kostum hewan, seperti kerbau, singa, dan sapi
  • Yang sangat khas adalah pemain mengenakan kostum onta
  • Pada sesi tertentu ada penari laki-laki yang berkostum wanita, biasanya berpura-pura hamil

2. Musik dan Instrumen
  • Sangat lekat dengan musik qosidah, nasionalisme, perjuangan, kehidupan keluarga dan masyarakat
  • Seruling, jedor/bedug, bende dimana ini merupakan instrumen musik sederhana
  • Seiring berkembangnya zaman, muncul "kubro dangdut" atau yang disebut brodut, dengan instrumen yang lebih modern
  • Ajakan masyarakat untuk rukun dengan tetangga

3. Model Tarian

  • Baris berbaris dengan gerakan kompak dan bervariasi
  • Terdapat atraksi yang menakjubkan di sesi akhir, seperti makan beling, mengupas kelapa memakai mulut, jalan di atas api, dll
  • Model tarian karena kesurupan (ndadi) atau kemasukan roh (sesi akhir)
  • Tarian yang menirukan gerak dan suara hewan
  • Terdapat sesi guyonan (guyon maton) dari beberapa orang
4. Filosofi

  • Proses islamisasi jawa khususnya Magelang dengan kesenian tari
  • Membangkitkan semngat cinta akan tanah akhir dan bela negara
  • Menggambarkan seorang tokoh jaman dahulu yang memiliki semangat mengusir penjajah
  • Islam tersebar dengan cara yang tidak memaksa, halus, bersifat ajakan dan menyenangkan
  • Wilayah Magelang pada jaman dulu sangat mistis, angker dan terdapat binatang buas yang menghuni hutan belantara