7 Alasan Kubro Dangdut Ngetren, Ngehits, dan Booming di Magelang


Bagi kalian yang tinggal di wilayah Magelang, kesenian kubro nampaknya sudah tidak terlalu asing di telinga kalian. Bagaimana tidak,
Gerakan serentak seperti baris berbaris dengan kombinasi alunan musik yang penuh akan nasihat menjadi ciri khasnya. Kubro merupakan kependekan dari kesenian obahing rogo (kesenian geraknya tubuh). Kesenian ini khas akan nilai dakwah islamnya.

argo mudo sawangan

Pada mulanya, kubro klasik sangat terkenal di wilayah magelang. Istilah klasik itu merujuk pada alat musik utamanya berupa bedug dan bende. Setahu saya itu, dan dulu yang ngehits itu bronto siswo sedayu II Muntilan.

Lha gini lur, zaman kan berkembang ke arah modernisasi dalam banyak hal. Kesenian tak luput dari perkembangan yang lebih modern. Kini Kubro Klasik kurang diminati masyarakat. Pandangan mereka mulai terfokus pada Kubro dangdut (brodut).

Brodut mulai muncul pada awal akhir 2015, mulai booming pada 2016 hingga dan masih jaya hingga tahun 2017 ini. variasi kubro dengan dangdut berasal dari desa gununglemah kecamatan dukun kabupaten magelang.

Kelompok kesenian itu menamai dirinya "Argo Mudo", berdiri sejak tahun 1997 dengan kesenian kubro klasik untuk pertama kalinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kesenian kubro klasik ini kurang begitu diminati.

Tidak hanya Argo mudo, kesenian kubro klasik sekelas bronto mudo sedayu muntilanpun mulai hilang ditelan zaman. Kemajuan dalam bidang teknik informasi baik itu media elektronik, media sosial hingga online memunculkan  budaya yang namanya "tren" dan "booming".

Pasca Kubro klasik ini meredup, munculah kesenian "topeng ireng" nama lainnya "dayakan". Kesenian ini muncul dari daerah borobudur dengan icon kelompok ternama yaitu "putra rimba"

Namun, kembali lagi media sosial yang menang dan mengubur kembali kesenian ini. Nampaknya hanya kesenian jatilanlah yang berada pada tahap "stagnant" atau tidak bisa habis ditelan oleh zaman, namun juga tidak ada kata tren untuk jatilan.

Lha, pasca topeng ireng ini meredup, kesenian kubro mulai bangkit kembali dengan kreativitas baru. Argo mudo sebagai kesenian kubro klasik yang meredup sebelumnya, mulai membentuk strategi baru yang mengkombinasikan klasik dengan modern.

Aransemen yang digarap lebih menonjol pada alunan musik, dimana musik tradisional tetap digunakan dengan menambahkan musik modern. Dari pengamatan langsung beberapa alat/instrumen musik modern yang digunakan berupa; orgen, kendang, gitar dan drum. Alat musik tradisional yang tetap digunakan adalah bedug, seruling dan bende.

Argo mudo yang mulai tampil dengan kubro dangdutnya dibuat tren oleh "media sosial dan internet". youtube sendiri sudah menayangkan video amatir argo mudo secara berkala, namun dengan kualitas rekaman hp. Untuk rekaman asli hanya bisa dibeli di toko-toko kaset.

Tapi....apa kalian tahu kenapa kok argo mudo bisa ngehits dan ngetren?? dari artikel saya di atas mungkin kalian sudah bisa sedikit menebak penyebabnya, namun akan saya jabarkan lebih rinci, sebagai berikut:

1. Kombinasi musik tradisional dan modern

Era tren menjadikan media sosial sebagai "tuhan" untuk menentukan laku tidaknya produk di pasaran. Kesenian apapun hakikatnya adalah produk, bertahan tidaknya kesenian juga faktor pemasaran.

Jika suatu kesenian kok jarang "ditanggap" jarang "tampil" di masyarakat, tentunya akan menurunkan minat kelompok kesenian untuk latian terus menerus dalam rangka mempertahankan budaya dan kreativitas.



Apalagi anak-anak modern sekarang yang dibiuskan oleh budaya tren, maka sangat lah wajar jika "suka dan tidak suka" nya terhadap sesuatu bukan faktor manfaat, tapi faktor tren.

Lha kalian tahu bahwa dangdut itu tren, dengan artis-artis baru yang bermunculan. Faktor alat musik seperti kendang, gitar, drum, dan seruling menjadi penentu indanya musik tersebut. Argo mudo berhasil membius masyarakat dengan alunan kombinasi musik tersebut tanpa menghilangkan alat tradisonalnya.

2. Membius masyarakat untuk berjoget

Irama dari kombinasi musik tradisional dan modern membuat masyarakat seperti tidak sadar anggota tubuhnya berjoget. Tidak seluruhnya berjoget, namun dari pengamatan saya menemukan bahwa alunan musik tersebut membuat saya dapat memetakannya menjadi 3 efek:



pertama, efek gerakan 5 s/d 25 % tubuh; rata-rata ibu-ibu yang menggendong anak, para orang tua dan anak-anak mengalami efek ini. Mereka sangat fokus mengikuti gerakan para pemain, jarang berkedip dan sesekali kepala ikut mengangguk-angguk tanda menikmati musik

Kedua, efek gerakan 25 s/d 50 % tubuh; dialami oleh anak-anak muda yang sedang labil, dimana mereka berjoget menggerakkan tubuhnya dengan gerakan sedang. Dalam artian, goyangan mereka tidak sampai mendesak-desak penonton lainnya.

Ketiga, efek gerakan 50 s/d 100% tubuh; dialami oleh anak-anak muda yang labil bahkan mabuk. Mereka adalah orang-orang yang mencintai sebuah ketidaksadaran, akibatnya setiap gerakan dan goyangan mereka mengganggu penonton lainnya.

Ketika alunan musik standart mereka bergoyang dengan gerakan 25 s/d 50%, akan tetapi ketika reff dengan alunan gitar, kendang, dll gerakan mereka naik drastis hingga meloncat loncat. 

Mereka berkumpul-kumpul pada 1 titik, sedangkan goyangan mereka membutuhkan ruang cukup luas. Karena ramainya penonton, maka seringkali terjadi desak-desakan, hingga terjadilah yang namanya "GELUT atau PERKELAHIAN".

3. Para Fans yang Berhasil Memasarkan dan membentuk suatu "brand"

Uniknya, saya baru kali ini menemukan bahwa suatu kesenian itu memunculkan fans yang menurut saya "fanatik". mereka membawa spanduk dengan tulisan "pecinta argo mudo" , "argo mudo Lovers" dll.

Mereka datang dari jauh-jauh, sehingga seringkali keramaian dari kubro dangdut bukan hanya dari masyarakat sekitar, justru dari para fans yang tersebar di mana-mana. 

Lha hampir dari setiap jadwal, para fans ini meng upload dan menyebarkan pada grup-grup fb,wa, dll. Keramaian itu otomatis terjadi karena para fans ini menyebarluaskan secara cepat jadwal-jadwal kegiatan argo mudo

4. Hadir sebagai makanan "anak muda"

Malam minggu di daerah perkotaan identik dengan mol, pusat perbelanjaan, dan emperan-emperan jalan yang ramai. Berbeda dengan malam minggunya di kampung atau desa, dimana pusat perbelanjaan jauh dari situ.

Mereka seringkali menikmati malam minggu dengan mencari keramaian di kampung-kampung, dalam hal ini keramaian tontonan kesenian. Bagaimana jika kesenian itu sangatlah diminati anak muda??tentu akan menjadi pusat perhatian yang luar biasa.



Walaupun, tidak sedikit anak muda datang sekedar jalan-jalan atau ketemuan sama pacarnya, gebetannya, selingkuhannya, atau temannya. Hal ini menjadi sangat biasa terjadi di dalam sebuah tontonan kesenian

5. Ajang untuk mandapatkan Kas / keuntungan dari pengunduh

Kalian tahu? ketika sebuah kesenian itu ramai akan pengunjung, maka parkiran akan membludak dan bisa menjadi sumber penghasilan bagi yang mengundang. Dalam beberapa lembar survey yang saya sebarkan ke beberapa dusun yang pernah mengundang argo mudo, mereka mendapatkan penghasilan dari parkir minimal "9 juta". waoooowwww....

Bisa kalian bayangkan berapa harga parkir dan berapa jumlah pengunjung yang membludak. Tentu anggaran tersebut, terkadang para prakteknya tidak sebanding juga dengan kerja keras dalam mempersiapkan tempat, memepersiapkan konsumsi pemain, menyewa sound system, dll.

6. Persaingan antar desa

Mulai muncul stereotype, atau prasangka bahwa dusun yang kaya, aktif, dan kompak dinilai dari keberhasilannya dalam membuat acara yang ramai. Lha, setelah kita pelajari bahwa ramainya pengunjung kubro dangdut, maka tentu suatu dusun atau desa ingin membangun "citra" atau "simbol"agar dianggap sebagai dusun/desa yang aktif



Hal ini lumrah terjadi di kalangan masyarakat pedesaan, karena setiap masyarakat itu akan lekat dengan identitas temapt tinggalnya. Misal ada orang luar desa bertanya, 

A :"kamu orang mana mas?" 
B : "saya orang tegalancar, srumbung" 
A : "oalah yang kemarin bisa ngundang kubro dangdut itu ya?"
B : "hehe...betul"

Lha ilustrasi tersebut sudah cukup menjelaskan bahwa identitas tempat tinggal dapat membangun citra positif seseorang. Memang, untuk mengundang kubro dangdut ini tidaklah mudah, karena harus melalui proses panjang, dan yang paling sulit adalah perizinan

7. Hadir untuk semua usia, ajang untuk pendidikan, dakwah hingga hiburan

Yang jarang disadari oleh masyarkat adalah struktur / barisan penonton pada kesenian tradisional. Biasanya para penonton di barisan paling depan sendiri adalah anak-anak usia 7 s/d 12 tahun. Penonton dibelakangnya ada ibu-ibu yang menggendong anak dan para orang tua. 

Lha barisan paling belakang biasanya yang seram seram, anak muda yang berjoget dengan liarnya tanpa sadar orang-orang disekeliling mereka. Orangtua biasanya menonton bukan faktor kepentingan pribadi, mayoritas adalah kepentingan keluarga.

Mereka mengajak anak untuk mengerti budaya, memahami pendidikan pentingnya melihat lingkungan sekitar, mengajak hiburan murah, dan mendengarkan alunan sholawat.

memang, kubro itu nilai khas salah satunya pada dakwah dan nasionalismenya. Itu tercermin dari lagu-lagu yang dibawakan / dinyanyikan. Lagu sholawat bisa didengarkan cukup intens, selain itu ada nasionalisme seperti bait ini:

" usirlah musuhmu penindas bangsamu, imperalis belanda penindas bangsamu. satukan tekadmu hai tentara kita"

Belum lagi bagi ibu-ibu pkk diingatkan kembali dengan "mars pkk"

"Hidup Gotong Royong Makmur Pangan dan sandang, rumah sehat sentosa"

dan bla bla bla....banyak lagi lainnya. ini menunjukkan bahwa kubro memang kesenian lengkap yang mengjarkan tentang nilai-nilai nasionalisme, kemasyarakatan, agama, dan hiburan. 


Mungkin itu dulu yang bisa saya jabarkan, saya akan membahas sisi lain dari kubro pada artikel berikutnya. Akhmad hanafi _ Srumbung Magelang